Langkah kakiku menuju rumah ibadah cukup berbeban pagi ini,
seakan semuanya menumpuk di atas pundak...berat ku pikul sendiri, tidak ada
yang tau, atau mungkin mereka memang tidak mau tau.
Hatiku mulai penuh pertanyaan : “Tuhan adakah Engkau disana?”
Rasanya hambar, sangat.
Terakhir ku ingat tidak ada rencana untuk mematikan ‘indera
perasa’ dalam diriku.
Namun, mereka meredup perlahan...menghilang entah kemana.
Akupun tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Sebentar seperti masih ada diriku yang dulu, sebentar ia
menjauh...menjauh...semakin mengecil, samar-samar suaranya disana...kemudian
sunyi.
Hatiku kembali bertanya : “Tuhan mengapa aku?”
Ada benda yang tak asing jatuh dari kedua bola mata. Dulu, dia sangat jarang ku jumpai, sekarang
hampir setiap hari kami bertemu. Mungkin, dia akan menjadi teman akrabku
beberapa tahun kedepan.
Disisi lain, telingaku mulai tidak mengenali puji-pujian
ini, ya mau tidak mau langkah beratku tadi menghantarkan ragaku kesini.
Jiwaku? ntah kemana dia..mungkin mencari penghiburan lain
yang lebih menjanjikan..walau setengah dariku sadar, dia tidak akan
menemukannya juga.
Semua sia-sia.
Semua tak bermakna.. tak berwarna.
Semua seakan menyerang, menusuk, perlahan, namun sangat
dalam..berbekas, sampai-sampai merubah wujudku. Terbukti, aku bahkan tak
mengenali ia yang baru.
Di penghujung ibadah bibirku bergumam, “Jangan memercayai
aku terlalu jauh, Tuhan. Aku mohon, jangan.”
Sesuatu mendorongku untuk mengerang, memohon pertolongan kepada
apa saja.. yang mendengar. Kepada apa saja..yang
mau mengulurkan tangan-Nya.
Jangan, tidak boleh berputus asa.
Jangan, tidak boleh hilang harap.
Belum, belum waktunya.. bertahan sedikit lagi, sebentar,
tahan sebentar lagi.
Cukup percaya, maka semua akan indah pada waktunya.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Detik berlalu, menit berganti.
Sialnya ia datang lagi, menguji sisa-sisa diriku yang masih
ada.
“Mau tinggal sampai kapan? Tadi itu hanya kata-kata peredam
rasa sakit yang sifatnya sementara. Tidak akan merubah apapun, jangan harap.”
Tak banyak yang ia ucapkan, namun cukup mengikis tembok yang
telah lama diriku bangun secara perlahan.
Sebentar..sebentar.. bukan mengikis, ia menghancurkan,
dengan sekejap.
Aku kehilangan.
Komentar
Posting Komentar