Perkenalkan namaku Sunyi.
Aku terlahir dari keadaan kosong.
Saudaraku bernama Sepi.
Ia lahir lebih dulu, namun hanya beda beberapa saat dariku.
Sahabatku Hampa.
Kami saling melengkapi satu sama lain.
Dulu aku sangat membenci Bising.
Karnanya aku jadi tak dianggap.
Namun seiring waktu,
tak jarang aku dan Bising jalan bersama.
Saat ini aku dan Sepi tinggal dalam sebuah rumah yang tidak
terlalu besar,
tidak terlalu tua juga.
Ia pernah bercerita kepadaku bahwa sebelum kami, Damai adalah pemilik rumah ini.
Namun, karena alasan yang tidak diketahui ia pergi atau
lebih tepatnya menghilang.
Belakangan ini aku, Hampa, dan Bising lebih sering bermain
didalam rumah.
Iya, salah satu alasannya karena aku tidak terlalu suka
atmosfer luar.
Apalagi si Takut masih menjadi buronan hingga saat ini.
Rasanya jauh lebih aman bermain dirumah sendiri.
Selain itu cuaca diluar rumah juga sedang tidak menentu.
Lebih sering hujan, meskipun terkadang berhenti dalam
sekejap.
Keadaan ini membuatku semakin sulit beranjak dari rumah.
Selain teman-temanku, tidak ada yang spesial dari lingkungan
tempatku tinggal.
Jarak antara satu rumah dengan rumah lainnya bisa dibilang
cukup jauh.
Tak jarang hal ini membuat beberapa penghuni dilingkunganku
pindah.
Mereka tidak suka dengan keadaan tersebut, membosankan dan
mencekam katanya.
Padahal menurutku tidak ada yang salah dengan jarak.
Padahal menurutku tidak ada yang salah dengan jarak.
Lain waktu aku akan menceritakan secara rinci tentang
rumahku.
Maaf tidak sekarang karena saatnya aku pamit.
Teman jauhku si Riang nampaknya sebentar lagi sampai.
Aku harus menyambutnya dengan baik.
Karna tamu adalah raja bukan?
Riang dulu adalah tetanggaku,bisa dibilang kami cukup akrab.
Namun kediamannya sering bermasalah, sehingga Riang merasa
kesulitan apabila memaksa bertahan dengan memperbaikinya terus menerus.
Kebetulan Riang menemukan rumah dengan usia lebih muda dan
kondisinya masih sangat bagus.
Meskipun jauh dari keramaian, tapi Riang merasa cocok dan
nyaman dengan rumah barunya.
Baiklah,
Sepertinya aku harus benar-benar undur diri.
Kapan-kapan aku akan bercerita lagi.
Tunggu saja waktunya.
Selamat tinggal.
Komentar
Posting Komentar