Kamu tau kan
dunia ini tidak adil?
Orang
berbondong-bondong meributkan si muka dua, padahal ada dia si seribu hati.
Hatinya
berubah-ubah, semua tergantung hari, tergantung lawan, tergantung kebutuhan,
tergantung apa yang menggantung.
Ia tidak
tau apa itu menetap, tidak mengenal tetap.
Hatinya
berubah-ubah, sangat cepat.
Sesungguhnya
dulu jumlah hati hanya satu, sepertinya hingga sekarang pun demikian.
Tetapi
benda yang ntah apa namanya berhasil merubah satu menjadi seribu.
Ah
kutambahkan ya, seakan-akan demikian.
Kamu tau
tidak berapa banyak yang terluka, yang sudah menjadi korban?
Lebih dari
dua.
Hal
mengerikan dari si seribu hati adalah kemampuannya menutupi, memanipulasi.
Nah, kalau
hal yang paling mengerikan darinya yaitu saat ia menikmati.
Tapi
namanya juga si seribu hati, terlalu rumit untuk dimengerti.
Sesaat menyesal,
lalu ia bersedih. Menyalahkan dirinya yang serupa iblis.
Lalu berusaha menyembuhkan dirinya yang sakit,
namun tak cukup dengan angin segar.
Seribu hati
menyebutnya penawar, orang sadar menyebutnya pemantik.
Memang
dasar si seribu hati, dalam diam ia tau siapa yang menggapnya berarti.
Setelah
menghampiri, setengah dari seribu menjelma iblis.
Sisanya berharap tidak menyakiti, menyisakan sesal.
Namun tak lupa bermain peran, sampai-sampai hilang akal.
Pernah ada
percakapan antara aku dengan si seribu hati, lalu kutanya apa yang sebenarnya
ia kejar.
“Tidak ada,
aku tidak mengejar apapun. Justru aku ingin menghilangkan sesuatu yang
mengganggu..”
“Apa itu?”,
ku balas dengan cepat sebelum ia menggandakan hatinya lagi.
Sambil tersenyum seribu hati menjawab,
“Sepi......bisakah?”
Sambil tersenyum seribu hati menjawab,
“Sepi......bisakah?”
Komentar
Posting Komentar